Terapkan Kurikulum Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal di Palu. #MitigasiKultural


Terapkan Kurikulum Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Lokal di Palu. #MitigasiKultural
Masalahnya
Waktu terjadi bencana tsunami dan likuifaksi di Palu tahun 2018 lalu, saya merasa tergagap dan kehilangan arah. Semua akses putus, dan warga tidak tahu harus berbuat apa.
Sebagian besar warga Palu tidak tahu kalau Palu punya potensi bencana seperti tsunami. Banyak orang beranggapan, “Ah, kan di Palu ada teluk, nggak mungkin ada tsunami.”
Sebagai lulusan Jurusan Sejarah, saya merasa kita perlu belajar soal sejarah kebencanaan di Palu. Agar punya pengetahuan untuk melakukan sesuatu saat bencana terjadi.
Tsunami di Palu pernah terjadi sebelumnya di tahun 1927 dan 1938. Tapi nggak banyak yang tahu, karena nggak pernah dipelajari di sekolah. Sehingga pengetahuan itu hilang.
Saat ini, pemulihan pembangunan di Palu masih terfokus pada pembangunan struktural. Walikota Palu sudah dengan baik sekali membangun sarana dan prasarana pasca bencana. Terakhir, baru saja Walikota Hadianto Rasyid resmikan Hunian Tetap di Petobo untuk korban bencana 2018. Kota Palu pun baru saja mendapat penghargaan Adipura. Suatu prestasi yang luar biasa yang dicapai pemerintahan Hadianto Rasyid.
Tapi saya berharap, Walikota Hadianto Rasyid juga bisa menerapkan mitigasi bencana non-struktural, terutama secara kultural. Sebenarnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu sudah membuat Buku Ajar yang berisi pengetahuan soal kebencanaan di Palu. Tapi saat ini, belum juga diterapkan di sekolah-sekolah.
Melalui petisi, saya berharap agar Walikota Hadianto Rasyid menerapkan pengetahuan kebencanaan di Palu dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Materi-materi soal kebencanaan di Palu bisa membuat warga lebih awas dan mawas diri jika hidup di kawasan yang rawan bencana.
Misalnya, dengan tidak membangun konstruksi di wilayah pesisir. Karena kalau kawasan itu ramai dengan hunian dan tempat kumpul warga, maka bisa ada banyak korban kalau terjadi bencana lagi. Juga harus dibangun akses jalur vertikal untuk evakuasi warga jika terjadi tsunami.
Selain itu, di kurikulum tentang kebencanaan, bisa juga diajarkan tentang gimana kontur alam, sejarah peristiwa kebencanaan, dan vegetasi dan fauna di Palu. Agar warga, terutama anak-anak, mengetahui daerah tempat tinggalnya dengan lebih baik.
Kalau Walikota Hadianto Rasyid berkomitmen memasukkan sejarah kebencanaan Palu dalam kurikulum sekolah, saya yakin masyarakat Palu akan punya pedoman lebih baik dalam menghadapi bencana, yang mungkin terjadi di masa depan.
Kalau teman-teman setuju ide ini, dukung dan sebarkan petisi saya. Kalau dapat 5.000 tandatangan, saya akan sampaikan petisinya langsung ke Walikota kita, Bapak Hadianto Rasyid.
Salam,
Jefrianto
Warga Palu

31
Masalahnya
Waktu terjadi bencana tsunami dan likuifaksi di Palu tahun 2018 lalu, saya merasa tergagap dan kehilangan arah. Semua akses putus, dan warga tidak tahu harus berbuat apa.
Sebagian besar warga Palu tidak tahu kalau Palu punya potensi bencana seperti tsunami. Banyak orang beranggapan, “Ah, kan di Palu ada teluk, nggak mungkin ada tsunami.”
Sebagai lulusan Jurusan Sejarah, saya merasa kita perlu belajar soal sejarah kebencanaan di Palu. Agar punya pengetahuan untuk melakukan sesuatu saat bencana terjadi.
Tsunami di Palu pernah terjadi sebelumnya di tahun 1927 dan 1938. Tapi nggak banyak yang tahu, karena nggak pernah dipelajari di sekolah. Sehingga pengetahuan itu hilang.
Saat ini, pemulihan pembangunan di Palu masih terfokus pada pembangunan struktural. Walikota Palu sudah dengan baik sekali membangun sarana dan prasarana pasca bencana. Terakhir, baru saja Walikota Hadianto Rasyid resmikan Hunian Tetap di Petobo untuk korban bencana 2018. Kota Palu pun baru saja mendapat penghargaan Adipura. Suatu prestasi yang luar biasa yang dicapai pemerintahan Hadianto Rasyid.
Tapi saya berharap, Walikota Hadianto Rasyid juga bisa menerapkan mitigasi bencana non-struktural, terutama secara kultural. Sebenarnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu sudah membuat Buku Ajar yang berisi pengetahuan soal kebencanaan di Palu. Tapi saat ini, belum juga diterapkan di sekolah-sekolah.
Melalui petisi, saya berharap agar Walikota Hadianto Rasyid menerapkan pengetahuan kebencanaan di Palu dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Materi-materi soal kebencanaan di Palu bisa membuat warga lebih awas dan mawas diri jika hidup di kawasan yang rawan bencana.
Misalnya, dengan tidak membangun konstruksi di wilayah pesisir. Karena kalau kawasan itu ramai dengan hunian dan tempat kumpul warga, maka bisa ada banyak korban kalau terjadi bencana lagi. Juga harus dibangun akses jalur vertikal untuk evakuasi warga jika terjadi tsunami.
Selain itu, di kurikulum tentang kebencanaan, bisa juga diajarkan tentang gimana kontur alam, sejarah peristiwa kebencanaan, dan vegetasi dan fauna di Palu. Agar warga, terutama anak-anak, mengetahui daerah tempat tinggalnya dengan lebih baik.
Kalau Walikota Hadianto Rasyid berkomitmen memasukkan sejarah kebencanaan Palu dalam kurikulum sekolah, saya yakin masyarakat Palu akan punya pedoman lebih baik dalam menghadapi bencana, yang mungkin terjadi di masa depan.
Kalau teman-teman setuju ide ini, dukung dan sebarkan petisi saya. Kalau dapat 5.000 tandatangan, saya akan sampaikan petisinya langsung ke Walikota kita, Bapak Hadianto Rasyid.
Salam,
Jefrianto
Warga Palu

31
Pengambil Keputusan
Petisi dibuat pada 1 Maret 2024