Selamatkan Ruang Hidup Desa Towara Dari Pencemaran Tambang Nikel

Masalahnya

 

 

 

 

“Ini air tidak jalan 2 hari sebelum pemilu. Jadi kita hemat air betul untuk cuci piring saja satu hari satu kali, nanti malam baru dicuci. Biasa ibu yang lain itu tampung air hujan untuk cuci bajunya. Kalau air tidak jalan kita beli lagi, ini tidak lama lagi puasa, susahnya ini air,” ujar Bu N.

Ibu N merupakan satu dari sekian banyak perempuan di Desa Towara, Morowali Utara, yang kesulitan memperoleh akses air bersih. Di Desa Towara, terdapat Sungai Putemata–yang menjadi salah satu sumber air bersih–bagi para warga.

Namun itu dulu. Setelah adanya operasi pertambangan yang dilakukan oleh PT. Keinz Ventura, Sungai Putemata menjadi tercemar. Alhasil, sungai yang menjadi salah satu sumber air bersih itu pun mulai langka dan sulit didapatkan warga Towara.

Melalui Sungai Putemata, air jernih melimpah didapatkan oleh warga melalui berbagai anak sungainya. Warga Desa Towara tak pernah kesulitan mendapatkan air bersih, setidaknya sampai beberapa tahun terakhir, hingga krisis air menimpa mereka sejak tahun 2021.

Akibat krisis tersebut, mengharuskan para warga–termasuk Ibu N–untuk membeli air bersih demi kebutuhan sehari-hari. Setiap minggu Ibu N mesti membeli air 2 sampai 3 kali, dengan harga 80 ribu rupiah per tandon. 

Tak ada lagi air bersih gratis di Desa Towara. Sumber pangan juga sudah tidak bisa diandalkan, sebab hampir semua lahan pertanian telah dialihfungsikan ke areal pertambangan. Hidup warga Towara menjadi serba susah. Semuanya gara-gara aktivitas pertambangan nikel yang mengepung kehidupan mereka.

Desa Towara, yang menjadi pusat aktivitas PT. Keinz Ventura dan sejumlah tambang nikel ilegal yang beroperasi pernah dilanda bencana longsor di jalan hauling pada tahun 2023. Akibatnya, lumpur-lumpur longsoran itu kembali mencemari Putemata.

PT. Keinz Ventura sendiri telah beraktivitas di Towara sejak tahun 2014, dengan memulai aktivitas pengeboran. Kemudian, pada tahun 2021 perusahaan ini sudah beroperasi menambang ore dan membawanya untuk diolah dalam kawasan PT. Stardust Estate Investment (SEI).

Kini, tidak hanya sumber air bersih yang terganggu. Ekonomi warga Towara juga ikut dirusak. Kerang meti–yang menjadi mata pencaharian para perempuan nelayan meti mulai tercemar. Butuh waktu dan energi lebih banyak untuk membersihkan kerang meti hasil tangkapan mereka, gara-gara seisi kerangnya  telah kotor.

Para nelayan itu pun terpaksa beralih-profesi, sebab ruang tangkapannya di aliran Sungai Putemata menuju Sungai Laa telah tercemar tambang nikel.

Tambang nikel tersebut seolah seperti Avatar: menguasai ruang air, darat, dan juga udara. Pencemaran tidak hanya terjadi di air Sungai Putemata dan di wilayah darat warga mendapatkan “hadiah” longsor. 

Di  udara, debu-debu tanah merah akibat pertambangan itu berterbangan dengan bebasnya menyerbu segala penjuru, termasuk Sekolah Dasar yang berada di Towara. Anak-anak sekolah terpaksa belajar di dalam ruangan kelas yang kotor karena debu ini. Setiap hari anak-anak harus membersihkan ruangan kelas terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai.

Masyarakat Desa Towara kini telah dimiskinkan secara sistemik. Mereka menghadapi perampasan ruang hidup, kehilangan pekerjaan, dan ancaman kesehatan.

Oleh karena itu, lewat petisi ini, kami meminta agar Bapak Bupati Morowali Utara meninjau ulang perizinan tambang nikel di Desa Towara. Apalagi sepengetahuan kami, Bapak ingin mewujudkan visi-misi Kabupaten Morowali Utara yang begitu indah dibaca: Morowali Utara Sehat, Cerdas, Sejahtera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

avatar of the starter
Yayasan Tanah MerdekaPembuka PetisiLembaga Swadaya Masyarakat. Fokus pada advokasi sumber daya alam dan perburuhan

143

Masalahnya

 

 

 

 

“Ini air tidak jalan 2 hari sebelum pemilu. Jadi kita hemat air betul untuk cuci piring saja satu hari satu kali, nanti malam baru dicuci. Biasa ibu yang lain itu tampung air hujan untuk cuci bajunya. Kalau air tidak jalan kita beli lagi, ini tidak lama lagi puasa, susahnya ini air,” ujar Bu N.

Ibu N merupakan satu dari sekian banyak perempuan di Desa Towara, Morowali Utara, yang kesulitan memperoleh akses air bersih. Di Desa Towara, terdapat Sungai Putemata–yang menjadi salah satu sumber air bersih–bagi para warga.

Namun itu dulu. Setelah adanya operasi pertambangan yang dilakukan oleh PT. Keinz Ventura, Sungai Putemata menjadi tercemar. Alhasil, sungai yang menjadi salah satu sumber air bersih itu pun mulai langka dan sulit didapatkan warga Towara.

Melalui Sungai Putemata, air jernih melimpah didapatkan oleh warga melalui berbagai anak sungainya. Warga Desa Towara tak pernah kesulitan mendapatkan air bersih, setidaknya sampai beberapa tahun terakhir, hingga krisis air menimpa mereka sejak tahun 2021.

Akibat krisis tersebut, mengharuskan para warga–termasuk Ibu N–untuk membeli air bersih demi kebutuhan sehari-hari. Setiap minggu Ibu N mesti membeli air 2 sampai 3 kali, dengan harga 80 ribu rupiah per tandon. 

Tak ada lagi air bersih gratis di Desa Towara. Sumber pangan juga sudah tidak bisa diandalkan, sebab hampir semua lahan pertanian telah dialihfungsikan ke areal pertambangan. Hidup warga Towara menjadi serba susah. Semuanya gara-gara aktivitas pertambangan nikel yang mengepung kehidupan mereka.

Desa Towara, yang menjadi pusat aktivitas PT. Keinz Ventura dan sejumlah tambang nikel ilegal yang beroperasi pernah dilanda bencana longsor di jalan hauling pada tahun 2023. Akibatnya, lumpur-lumpur longsoran itu kembali mencemari Putemata.

PT. Keinz Ventura sendiri telah beraktivitas di Towara sejak tahun 2014, dengan memulai aktivitas pengeboran. Kemudian, pada tahun 2021 perusahaan ini sudah beroperasi menambang ore dan membawanya untuk diolah dalam kawasan PT. Stardust Estate Investment (SEI).

Kini, tidak hanya sumber air bersih yang terganggu. Ekonomi warga Towara juga ikut dirusak. Kerang meti–yang menjadi mata pencaharian para perempuan nelayan meti mulai tercemar. Butuh waktu dan energi lebih banyak untuk membersihkan kerang meti hasil tangkapan mereka, gara-gara seisi kerangnya  telah kotor.

Para nelayan itu pun terpaksa beralih-profesi, sebab ruang tangkapannya di aliran Sungai Putemata menuju Sungai Laa telah tercemar tambang nikel.

Tambang nikel tersebut seolah seperti Avatar: menguasai ruang air, darat, dan juga udara. Pencemaran tidak hanya terjadi di air Sungai Putemata dan di wilayah darat warga mendapatkan “hadiah” longsor. 

Di  udara, debu-debu tanah merah akibat pertambangan itu berterbangan dengan bebasnya menyerbu segala penjuru, termasuk Sekolah Dasar yang berada di Towara. Anak-anak sekolah terpaksa belajar di dalam ruangan kelas yang kotor karena debu ini. Setiap hari anak-anak harus membersihkan ruangan kelas terlebih dahulu sebelum pembelajaran dimulai.

Masyarakat Desa Towara kini telah dimiskinkan secara sistemik. Mereka menghadapi perampasan ruang hidup, kehilangan pekerjaan, dan ancaman kesehatan.

Oleh karena itu, lewat petisi ini, kami meminta agar Bapak Bupati Morowali Utara meninjau ulang perizinan tambang nikel di Desa Towara. Apalagi sepengetahuan kami, Bapak ingin mewujudkan visi-misi Kabupaten Morowali Utara yang begitu indah dibaca: Morowali Utara Sehat, Cerdas, Sejahtera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

avatar of the starter
Yayasan Tanah MerdekaPembuka PetisiLembaga Swadaya Masyarakat. Fokus pada advokasi sumber daya alam dan perburuhan

Perkembangan terakhir petisi