Ayo Beralih Pakai Popok Kain untuk Selamatkan Lingkungan


Ayo Beralih Pakai Popok Kain untuk Selamatkan Lingkungan
The Issue
Saya Viedela, ibu rumah tangga yang saat ini memiliki seorang balita berusia 3 tahun. Dulu saya sering mengikuti kegiatan kelestarian lingkungan, salah satunya bersih-bersih sungai bersama Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) di Bogor. Di sanalah keresahan terhadap sampah popok sekali pakai bermula karena seringnya menemukan sampah popok sekali pakai yang mencemari sungai. Maka dari itu, saat memutuskan untuk mempunyai anak, saya berkomitmen untuk semaksimal mungkin memilih menggunakan popok kain yang dapat digunakan kembali untuk anak saya daripada menggunakan popok sekali pakai. Permasalahan yang saya hadapi selama menggunakan popok kain adalah biaya di awal yang tergolong tinggi, kerepotan mencuci popok kain setiap hari karena saya hanya memiliki 13 buah popok kain, serta bawaan yang lebih banyak saat melakukan perjalanan. Tapi saya yakin jika apa yang saya lakukan tidak menambah beban kepada lingkungan sekitar kita.
Penduduk Indonesia yang berusia 0-4 tahun pada tahun 2022 sejumlah 22,09 juta jiwa. Jumlah tersebut yang berpotensi menghasilkan sampah karena kecenderungan penggunaan popok sekali pakai. Seperti hasil survey yang dilakukan atas kerjasama Viedela AK (Alumni We Create Change 2) dengan WeSpeakUp.org dan ECOTON pada tahun 2023 yang berjudul Survei Penggunaan Popok pada Balita, 60,5% memilih popok sekali pakai sebagai jenis popok yang paling sering digunakan karena praktis atau mudah digunakan dan dibuang (88,5%).
Seorang bayi baru lahir dapat buang air besar sebanyak 10 kali. Setelah melewati masa bayi baru lahir, bayi disarankan mengganti popok sebanyak 4 jam sekali. Hasil Survei Penggunaan Popok pada Balita menyatakan bahwa sebanyak 42,3% (44) responden menyatakan menggunakan 1 hingga 3 popok dalam sehari, 40,4% (42) responden menggunakan 3 hingga 5 popok dalam sehari, dan 15,4% (16) menggunakan 5 hingga 8 popok dalam sehari. Maka dapat dibayangkan berapa banyak sampah popok sekali pakai yang dihasilkan dalam pertumbuhan seorang anak hingga dia berhasil memasuki tahap toilet training (bisa buang air di toilet).
Popok bekas pakai dibuang begitu saja tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Mayoritas responden (77,9%) pada Survei Penggunaan Popok pada Balita menyatakan membuang limbah popok sekali pakai ke penampungan sampah (diangkut truk sampah ke TPA). Alih-alih ada pengumpulan sampah di setiap rukun tetangga/ desa untuk membersihkan lingkungan, justru pembuangan dilakukan secara massal di suatu tempat tanpa ada pemilahan. Hal ini dapat memperburuk kesehatan lingkungan yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Rae Ahmad Parinsa dan Nico Halomoan dalam penelitiannya pada tahun 2022, memperkirakan timbulan sampah popok sekali pakai rata-rata di Kabupaten Karawang sejumlah 101,08 ton/ hari. Pemberitaan Mongabay pada tahun 2018 menyatakan bahwa pada 2017, sampah popok merupakan komposisi terbesar ke-dua di laut yaitu sejumlah 21% setelah sampah organik (44%).
Selain itu, penggunaan popok sekali pakai yang berbahan dasar kimiawi seringkali menimbulkan efek negatif bagi balita seperti ruam hingga penyumbatan saluran pembuangan air kecil/ besar. Kulit yang merupakan bagian terluar dari tubuh berfungsi sebagai pelindung paling pertama, namun ketika terjadi gangguan pada kulit dapat menimbulkan masalah kesehatan tubuh lainnya. Ayaul Wasiah dan kawan-kawan dalam jurnalnya pada 2021 menyatakan bahwa sejumlah 62,1% batita di PMB Ani Mahmudah SST, Kab. Lamongan mengalami iritasi yang disebabkan karena penggunaan popok sekali pakai. Sedangkan Anggraini dalam jurnalnya menyatakan di Desa Panca Tunggal, Kabupaten Lampung pada tahun 2018 terjadi ruam popok pada bayi sejumlah 21,14%. Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Ertiana dan Febriani Dyah Antika Sari menunjukkan bahwa 15 dari 17 batita mengalami ruam karena penggunaan popok sekali pakai. Popok sekali pakai memang mengandung bahan yang membantu permukaan popok mudah kering, namun juga durasi yang disarankan hanya 3-4 jam. Dilemanya, jika saran tersebut dituruti maka dalam sehari berpotensi menghasilkan 6-8 sampah popok sekali pakai.
Menggunakan popok kain yang dapat digunakan kembali adalah pilihan yang tepat untuk tidak menambah beban kepada lingkungan, balita yang menggunakan popok sekali pakai mengalami keberhasilan yang rendah dalam toilet training pada usia 18 bulan sampai 4 tahun. Terbukti pada penelitian yang dilakukan oleh Cindy Irmayanti bahwa di Kota Malang sejumlah 78,6% telah berhasil toilet training dengan riwayat penggunaan popok yang dapat digunakan kembali, sedangkan balita pengguna popok sekali pakai baru berhasil toilet training sejumlah 33,9%. Hal itu terjadi karena ketika balita terbiasa menggunakan popok yang dapat digunakan kembali, dia akan merasakan sensasi basah pada kemaluannya sehingga lebih cepat memahami bahwa buang air kecil/ besar itu membuatnya tidak nyaman sehingga harus diganti/ melakukannya di toilet.
Terlepas dari sejumlah tantangan yang ada, hampir seluruh responden dari Survei Penggunaan Popok pada Balita menyatakan tetap ingin merekomendasikan popok kain kepada orang lain (95,6%). Mayoritas responden ingin merekomendasikan popok kain karena lebih hemat, ramah lingkungan dan lebih aman.
Saya sudah pakai untuk anak saya, maka dari itu saya mengajak para orangtua untuk beralih dari penggunaan popok sekali pakai ke popok kain yang dapat digunakan berulang, agar tidak ada lagi tumpukan sampah popok sekali pakai yang mencemari lingkungan.
#gantidenganpopokkain

The Issue
Saya Viedela, ibu rumah tangga yang saat ini memiliki seorang balita berusia 3 tahun. Dulu saya sering mengikuti kegiatan kelestarian lingkungan, salah satunya bersih-bersih sungai bersama Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) di Bogor. Di sanalah keresahan terhadap sampah popok sekali pakai bermula karena seringnya menemukan sampah popok sekali pakai yang mencemari sungai. Maka dari itu, saat memutuskan untuk mempunyai anak, saya berkomitmen untuk semaksimal mungkin memilih menggunakan popok kain yang dapat digunakan kembali untuk anak saya daripada menggunakan popok sekali pakai. Permasalahan yang saya hadapi selama menggunakan popok kain adalah biaya di awal yang tergolong tinggi, kerepotan mencuci popok kain setiap hari karena saya hanya memiliki 13 buah popok kain, serta bawaan yang lebih banyak saat melakukan perjalanan. Tapi saya yakin jika apa yang saya lakukan tidak menambah beban kepada lingkungan sekitar kita.
Penduduk Indonesia yang berusia 0-4 tahun pada tahun 2022 sejumlah 22,09 juta jiwa. Jumlah tersebut yang berpotensi menghasilkan sampah karena kecenderungan penggunaan popok sekali pakai. Seperti hasil survey yang dilakukan atas kerjasama Viedela AK (Alumni We Create Change 2) dengan WeSpeakUp.org dan ECOTON pada tahun 2023 yang berjudul Survei Penggunaan Popok pada Balita, 60,5% memilih popok sekali pakai sebagai jenis popok yang paling sering digunakan karena praktis atau mudah digunakan dan dibuang (88,5%).
Seorang bayi baru lahir dapat buang air besar sebanyak 10 kali. Setelah melewati masa bayi baru lahir, bayi disarankan mengganti popok sebanyak 4 jam sekali. Hasil Survei Penggunaan Popok pada Balita menyatakan bahwa sebanyak 42,3% (44) responden menyatakan menggunakan 1 hingga 3 popok dalam sehari, 40,4% (42) responden menggunakan 3 hingga 5 popok dalam sehari, dan 15,4% (16) menggunakan 5 hingga 8 popok dalam sehari. Maka dapat dibayangkan berapa banyak sampah popok sekali pakai yang dihasilkan dalam pertumbuhan seorang anak hingga dia berhasil memasuki tahap toilet training (bisa buang air di toilet).
Popok bekas pakai dibuang begitu saja tanpa ada pengolahan terlebih dahulu. Mayoritas responden (77,9%) pada Survei Penggunaan Popok pada Balita menyatakan membuang limbah popok sekali pakai ke penampungan sampah (diangkut truk sampah ke TPA). Alih-alih ada pengumpulan sampah di setiap rukun tetangga/ desa untuk membersihkan lingkungan, justru pembuangan dilakukan secara massal di suatu tempat tanpa ada pemilahan. Hal ini dapat memperburuk kesehatan lingkungan yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Rae Ahmad Parinsa dan Nico Halomoan dalam penelitiannya pada tahun 2022, memperkirakan timbulan sampah popok sekali pakai rata-rata di Kabupaten Karawang sejumlah 101,08 ton/ hari. Pemberitaan Mongabay pada tahun 2018 menyatakan bahwa pada 2017, sampah popok merupakan komposisi terbesar ke-dua di laut yaitu sejumlah 21% setelah sampah organik (44%).
Selain itu, penggunaan popok sekali pakai yang berbahan dasar kimiawi seringkali menimbulkan efek negatif bagi balita seperti ruam hingga penyumbatan saluran pembuangan air kecil/ besar. Kulit yang merupakan bagian terluar dari tubuh berfungsi sebagai pelindung paling pertama, namun ketika terjadi gangguan pada kulit dapat menimbulkan masalah kesehatan tubuh lainnya. Ayaul Wasiah dan kawan-kawan dalam jurnalnya pada 2021 menyatakan bahwa sejumlah 62,1% batita di PMB Ani Mahmudah SST, Kab. Lamongan mengalami iritasi yang disebabkan karena penggunaan popok sekali pakai. Sedangkan Anggraini dalam jurnalnya menyatakan di Desa Panca Tunggal, Kabupaten Lampung pada tahun 2018 terjadi ruam popok pada bayi sejumlah 21,14%. Penelitian yang dilakukan oleh Dwi Ertiana dan Febriani Dyah Antika Sari menunjukkan bahwa 15 dari 17 batita mengalami ruam karena penggunaan popok sekali pakai. Popok sekali pakai memang mengandung bahan yang membantu permukaan popok mudah kering, namun juga durasi yang disarankan hanya 3-4 jam. Dilemanya, jika saran tersebut dituruti maka dalam sehari berpotensi menghasilkan 6-8 sampah popok sekali pakai.
Menggunakan popok kain yang dapat digunakan kembali adalah pilihan yang tepat untuk tidak menambah beban kepada lingkungan, balita yang menggunakan popok sekali pakai mengalami keberhasilan yang rendah dalam toilet training pada usia 18 bulan sampai 4 tahun. Terbukti pada penelitian yang dilakukan oleh Cindy Irmayanti bahwa di Kota Malang sejumlah 78,6% telah berhasil toilet training dengan riwayat penggunaan popok yang dapat digunakan kembali, sedangkan balita pengguna popok sekali pakai baru berhasil toilet training sejumlah 33,9%. Hal itu terjadi karena ketika balita terbiasa menggunakan popok yang dapat digunakan kembali, dia akan merasakan sensasi basah pada kemaluannya sehingga lebih cepat memahami bahwa buang air kecil/ besar itu membuatnya tidak nyaman sehingga harus diganti/ melakukannya di toilet.
Terlepas dari sejumlah tantangan yang ada, hampir seluruh responden dari Survei Penggunaan Popok pada Balita menyatakan tetap ingin merekomendasikan popok kain kepada orang lain (95,6%). Mayoritas responden ingin merekomendasikan popok kain karena lebih hemat, ramah lingkungan dan lebih aman.
Saya sudah pakai untuk anak saya, maka dari itu saya mengajak para orangtua untuk beralih dari penggunaan popok sekali pakai ke popok kain yang dapat digunakan berulang, agar tidak ada lagi tumpukan sampah popok sekali pakai yang mencemari lingkungan.
#gantidenganpopokkain

Petition Closed
Share this petition
The Decision Makers
Petition created on September 8, 2023